Selamat datang dan terimakasih atas kunjungan saudara

Minggu, 19 Mei 2013

Diduga Lakukan Mal Praktek, Dokter RS Santa Elisabeth Medan Dipolisikan

Starberita - Medan, Salah seorang dokter RS Santa Elisabeth Medan, dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG dilaporkan oleh Mariani Sihombing (53) warga Pemantang Siantar, yang merupakan pasien rumah sakit tersebut, ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumut, Senin (14/1) tadi. Mariani melaporkan oknum dokter tersebut atas tuduhan mal praktik terhadap dirinya saat dirawat di rumah sakit itu pada bulan Mei 2009 yang lalu.


Kepada wartawan di Mapolda Sumut, Sangapan Sinambela (31), anak korban menceritakan, bahwa kejadian itu bermula pada 14 Mei 2009 silam. "Ibu saya (Mariani) berobat pada salah satu dokter yang berpraktik di kota Pematang Siantar. Ibu saya menyampaikan keluhannya, bahwa jika ibu saya haid darahnya bergumpal. Kemudian dilakukan pemeriksaan USG dan hasilnya ditemukan adanya myoma uteri (pembesaran otot rahim) yang harus dibuang melalui tindakan operasi," ujar Sangapan, anak pertama korban.

Kemudian lanjut Sangapan, saat menjalani pemeriksaan Hb (Hemoglobin) sebelum operasi, ternyata terlalu rendah dan tidak dimungkinkan dilakukan operasi. Karena itu, disarankan dokter tersebut Hb-nya harus dinaikkan melalui transfuse darah dan dirujuk ke dr Hotma Partogi Pasaribu, SpOG yang berpraktik di RS SANTA ELISABETH, Jl. Haji Misbah Medan dengan jaminan bahwa alatnya lebih lengkap dan dokter yang menanganinya lebih bagus dan baik.

"Pada tanggal 19 Mei 2009, ibu saya mendatangi praktik dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG. Setelah dilakukan pemeriksaan maka ibu saya perlu dilakukan Biopsi (pengambilan sebagian jaringan untuk diperiksa) dan dianjurkan untuk dirawat inap di RS Santa Elisabeth Medan. Pada tanggal 20 Mei 2009, ibu saya menjalani rawat inap di RS Santa Elisabeth Medan, dimana dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG mengatakan agar dilakukan tindakan kuret (dikerok dinding rahim) tanpa menjelaskan apa maksud dan tujuan dari tindakan tersebut. Kemudian, pada tanggal 27 Mei 2009, tepatnya pukul 08.00 - 12.30 WIB, dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG melakukan operasi pada ibu saya. Pasca operasi, setelah sadar ibu saya tidak dapat mengeluarkan urine di kateter. Hal ini berlangsung hingga besok pagi (28/5). Kemudian pagi itu juga dilakukan USG terhadap korban oleh dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG dan hasilnya ada penyumbatan lalu kemudian dilakukan kembali operasi untuk kedua kalinya selama tiga jam. Sampai hari kedua pasca operasi, urine keluar dari kateter, tetapi pada hari ketiga dan seterusnya, ada urine keluar melalui vagina (seperti beser), pernah dilakukan peneropongan dari vagina dan dijelaskan bahwa ada bocor yang halus sekali pada kandung kemih korban. Selanjutnya dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG memberikan obat dan menyatakan akan sembuh," jabar Sangapan.

Setelah 3 minggu, sambungnya, kateter dibuka, ternya urine keluar melalui vagina tanpa sadar dan tidak bisa ditahan. Setelah dirawat selama 25 hari di RS Santa Elisabeth Medan, ibunya merasa penyakitnya tidak kunjung sembuh, malah makin parah. Akhirnya keluarga memutuskan untuk pindah ke RS Columbia Asia Medan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan menyebutkan ada kanker dan perlu dirawat untuk kemoterapi dan radiasi. Namun karena sering beser, kemo tidak jadi dilakukan, lalu kemudian ibu saya dipindahkan ke Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta pada tanggal 1 Juni 2009 dan ditangani dr Eben Ezer Siahaan, SpU.

"Selama 2 minggu dilakukan pemeriksaan ulang terhadap ibu saya karena tidak adanya Rekaman Medik ibu saya selama dirawat di RS Santa Elisabeth Medan. Kemudian oleh dr Eben Ezer, SpU membentuk tim untuk melakukan tindakan operasi terhadap ibu saya. Setelah 2 jam operasi dilakukan, pihak keluarga ibu saya diminta masuk ke ruangan operasi untuk memperlihatkan hasil operasi yang pernah dilakukan di RS Santa Elisabeth Medan, oleh dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG  yaitu adanya 2 robekan sebesar ibu jari dan tidak mungkin untuk diperbaiki lagi, serta masih adanya kelenjar yang tertinggal dan masih belum bersih. Hal ini sangat berbeda dengan penjelasan sebelumnya oleh dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG yang menyatakan bahwa kebocorannya sangat halus dan akan sembuh setelah diobati. Saat itu juga dr. Eben Ezer Siahaan, SpU dan dr. Chamim, SpOK (Onk) menjelaskan bahwa kebocoran tersebut dapat diperbaiki tetapi hanya bertahan 1 minggu, sementara ibu saya membutuhkan dilakukannya tindakan radiasi agar kankernya tidak menyebar kemana-mana. Solusi akhir adalah dilakukannya tindakan penutupan kandung kemih dan dipasangnya kateter langsung dari ginjal secara permanen," ungkap Sangapan.

Lebih lanjut Sangapan menceritakan, selain dari semua proses operasi tersebut, ibunya juga telah menjalani 25 kali radiasi luar dan 2 kali radiasi dalam. "Akibat dari semuanya itu, ibu saya mengalami cacat permanen, kondisi fisik yang menurun yang dapat dijelaskan dengan berulang kalinya ibu saya harus dirawat inap di rumah sakit dengan keluhan yang sama, yaitu pada ginjal : 25-29 Mei 2010, 6-10 September, 10-12 Januari 2012, 26-29 Maret 2012, 10-13 September 2012) dan kondisi ini tidak tahu akan terulang untuk berapa kali lagi. Disamping itu setiap 1 bulan, ibu saya harus melakukan kurang lebih 7 jam perjalanan dari kota domisili ibu saya di pematang siantar ke kota medan untuk mengganti selang yang tertanam pada ginjalnya, termasuk mengganti perban penutup lubang pada pinggang kiri kanan setiap 3 hari yang terpaksa dilakukan sendiri dengan dibantu keluarga," jelasnya.

Masih kata Sangapan, akibat dari semuanya itu, pihak keluarga telah mencoba membuat pengaduan kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) dengan nomor registrasi pengaduan 24/P/MKDKI/VIII/2009 dan setelah MKDKI memeriksa, mendengarkan dan mempertimbangkan keterangan dari seluruh pihak yang terlibat maka pada Kamis, 31 Maret 2011 Majelis Pemeriksa Disiplin pada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia telah membacakan hasil keputusannya, dimana menurut kami banyak terjadi kejanggalan. Bahwa dalam salinan surat keputusan yang kami terima Majelis hanya memaparkan keterangan dari pasien, dokter spesialis bedah RS Elisabeth Medan serta dokter spesialis urologi RS Elisabeth Medan. Sementara keterangan dari 4 saksi lainnya tidak dipaparkan.

Bahwa Majelis Pemeriksa Disiplin telah mendengarkan keterangan dari para ahli yang dengan jelas menyatakan bahwa seorang spesialis Obstetri Ginekologi (dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG)  tidak kompeten melakukan operasi, maka harus dirujuk ke Onkolog Ginekologi. Di Medan ada 5 orang ahli tersebut. Bahwa pada cedera yang dialami pasien bukan karena proses penyebaran tumornya, tetapi murni masalah teknis yang dilakukan oleh dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG. Bahwa dalam kemungkinan terjadinya kecelakaan dalam operasi, seharusnya seorang spesialis Obstetri Ginekologi (dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG)  yang tidak berkompeten melakukan operasi melibatkan seorang ahli bedah Urologi. Bahwa dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG telah melakukan kesalahan membuat diagnosis myoma uteri sementara hasil PA-nya tidak menemukan myoma berarti diagnosis pre operasi tidak tepat.

Bahwa sampai saat ini korban  tidak pernah diberikan Rekam Medik oleh pihak Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, yang menolak memberikan dan menyatakan bahwa berdasarkan peraturan pemerintah, Rekam Medik adalah rahasia Rumah Sakit. Hal ini sangat bertentangan dengan yang keluarga ketahui bahwa isi Rekam Medik adalah hak pasien.

Bahwa sangat tidak masuk akal, keputusan yang berdasarkan Pedoman Penegakan Disiplin Profesi Kedokteran yang memutuskan : Dalam penatalaksanaan pasien, melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar atau pemaaf yang sah, sehingga dapat membahayakan pasien; dalam hal ini tidak melakukan tindakan yang tepat terhadap keadaan yang membutuhkan intervensi hanya dijatuhi sanksi rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi selama 2 (dua) bulan. 

Dan bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG tidak diartikan sebagai “culpa” (lalai), maupun “opzet” (sengaja), juga bukan merupakan pelanggaran dalam arti “opzet bij mogelijkheid” (keinsyafan akan kemungkinan) dan melawan hukum, baik dalam hukum Pidana (wederechtelijk) maupun hukum Perdata (onrechtmatigedaad) dalam pengertian malpraktik kedokteran secara hukum. “Pelanggaran” tersebut terbatas pada Norma Disiplin Administratif, sehingga tidak serta merta dapat diartikan sebagai “Pelanggaran” maupun “Perbuatan Melawan Hukum” yang memerlukan persyaratan luas berupa “Profesional Competency of Experts” dan “Geographic Competency of Experts”.

"Bahwa berdasarkan semua kejanggalan-kejanggalan dalam putusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) tersebut, saya dan keluarga sangat mempertanyakan kredibilitas dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), dan terutama tim Majelis Pemeriksa Disiplin yang menangani kasus ibu saya. Bahwa akibat dari tindakan dari dr. Hotma Partogi Pasaribu SpOG,  ibu saya sudah sangat dirugikan baik secara Moril/Immateril maupun Materil. Sampai saat ini, baik dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG maupun pimpinan Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tidak sekalipun pernah menunjukkan rasa simpati apalagi permintaan maaf secara tulus terhadap ibu saya. Sangat mengecewakan mengetahui kenyataan bahwa rumah sakit yang memiliki visi yang berdasar akan “CINTA KASIH” bersikap seperti itu," tukasnya.

Data yang diperoleh di SPKT Polda Sumut, laporan pengaduan korban diterima dengan nomor : Lp/48/I/2013 SPKT III, yang menerima Brigadir Gomgom Tampubolon dan diketahui oleh Kepala Siaga SPKT III Polda Sumut, Kompol Ramli Anas Sitinjak. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terlapor maupun pihak RS Santa Elisabeth Medan.(ANS/MBB)

Klik Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut